SELAMAT TINGGAL, ORANG YG MAU MENDENGARKANKU

 Suatu hari tepat setelah laga final EURO, Aku dan Ayah serta Kakakku sedang beristirahat di depan televisi seperti biasanya.

 Bersama Ibu menikmati hari dengan tenang, sementara Nenek hanya bisa terbaring di kamar karena sedang sakit.

 Saat itu Ayahku juga sebenarnya sedang sakit, tapi karena final EURO yang menyenangkan membuat beliau melupakan sakitnya.

 Kami (Aku dan Ayah) pun berbincang-bincang tentang laga final, sementara Ibu dan Kakak memasak di dapur.

 Hari-hari kami nikmati bersama sebagai keluarga, semuanya terasa begitu sederhana namun menyenangkan.

 Saat berbincang tersebut, Ayah tiba-tiba berkata:

Ayah: "Ingin rasanya pergi ke Masjid lagi"

Lalu Aku pun membalas perkataan Ayah.

Aku: "Tenang saja Ayah, nanti begitu sembuh pasti Ayah bisa ke Masjid lagi"

Begitulah yang Aku pikirkan, sampai suatu ketika kondisi Ayah malah semakin memburuk.

 Saat itu kami semua cukup tenang karena sudah sering ke Rumah Sakit, mengingat Ayah sering dirawat akibat mengalami sakit jantung.

 Namun hari itu agak berbeda, rasanya seperti akan ada yang hilang. Tapi Aku berusaha mengabaikan pikiran itu, dan Kakak serta Ibuku mengantarkan Ayah ke Rumah Sakit.

 Malam terasa panjang saat itu, Aku yg tidak tahu harus apa karena HPku sedang rusak pun memutuskan untuk tidur sejenak.

 Akan tetapi di tengah malam, Tanteku datang bersama dengan Om sambil membereskan Rumah. Aku keheranan sambil bertanya "apa yang terjadi? ini sudah terlalu malam untuk beres-beres", tanpa bertanya sedikit pun Aku hanya diam saja saat itu.

 Ditengah kebingungan, Aku mulai berpikir tentang firasat buruk yang sempat kurasakan. Hingga akhirnya Ibuku pun tiba bersama dengan Kakak.

 Tapi saat Aku tanya "bagaimana kabarnya Ayah?", Ibuku membisikkan dengan halus dan berkata jika Ayah sudah tiada.

 Anehnya saat itu Aku tidak menangis, hanya terdiam dan terpaku. Mungkin karena sudah menduganya, tapi tetap saja air mataku tak menetes sedikitpun.

 Hingga akhirnya hari pemakamannya pun tiba, dan saat itu Aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.

 Perlahan keheningan itulah yang menyadarkanku, sosok yang selama ini selalu ada dan mendengarkanku sudah tidak ada lagi di dunia ini.

 Ketika sudah tersadar itulah, air mataku mulai keluar dan bahkan tak bisa berhenti untuk waktu yang cukup lama.


Komentar